600 Atlet Ikuti Kejurnas Hapkido IX Senior-Junior dan Terbuka III di Bandar Lampung

WARTAPOST.CO.ID, Bandar Lampung — Sebanyak 600 atlet dari 17 provinsi dan 18 kabupaten/kota ambil bagian dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) IX Senior-Junior dan Kejurnas Terbuka III Cadet Junior Hapkido Tahun 2026, yang berlangsung pada 26–27 September 2026 tersebut dipusatkan di GOR Siger, Bandar Lampung.

Ajang ini tidak hanya menjadi arena persaingan prestasi atlet, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Pengurus Daerah Hapkido Lampung dalam memperkuat pembinaan olahraga sekaligus menguji kesiapan daerah menjadi tuan rumah event olahraga berskala nasional.

Ketua Pengurus Daerah Hapkido Lampung, Ida Bagus Wiguna, mengatakan pelaksanaan kejurnas di Lampung menjadi momentum yang telah lama ditunggu. Menurutnya, Hapkido Lampung telah aktif mengikuti berbagai kejuaraan nasional sejak olahraga tersebut mulai berkembang di daerah pada sekitar 2014–2015.

“Lampung sejak Hapkido lahir, sekitar 2014–2015, sudah mulai eksis. Sampai Kejurnas kedelapan di Surabaya, kita tidak pernah absen dengan jumlah tim yang juga cukup besar,” kata Ida Bagus.

Ia menjelaskan, keikutsertaan atlet Lampung dalam kejurnas selama ini tidak semata-mata berorientasi pada perolehan medali. Lebih dari itu, setiap kejuaraan menjadi kesempatan bagi atlet daerah untuk mendapatkan pengalaman bertanding di tingkat nasional.

Menurutnya, penyelenggaraan Kejurnas Hapkido di Lampung menjadi kesempatan bagi atlet-atlet daerah untuk merasakan atmosfer kompetisi nasional tanpa harus selalu bertanding di luar daerah.

“Ini memang sengaja kita buat dan kita tunggu-tunggu di Provinsi Lampung sebagai ajang agar seluruh anak-anak kita di Lampung bisa merasakan kejuaraan nasional,” ujarnya.

Ida Bagus menambahkan, penyelenggaraan event berskala nasional juga menjadi sarana untuk menguji kemampuan sumber daya manusia Lampung dalam mengelola sebuah pertandingan olahraga. Mulai dari kepanitiaan, perangkat pertandingan, hingga pelayanan terhadap kontingen dari luar daerah.

Hal tersebut dinilai penting mengingat Lampung terus didorong untuk mempersiapkan diri sebagai calon tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2032.

“Ini menjadi sebuah eksistensi bahwa Provinsi Lampung sanggup melaksanakan event-event tingkat nasional. Apalagi kalau PON 2032 terus didorong untuk menuju tuan rumah, harapannya Lampung bisa menjadi tuan rumah untuk cabang olahraga Hapkido,” katanya.

Menurut Ida Bagus, pengalaman menggelar kejuaraan nasional akan memberikan dampak lebih luas dibandingkan sekadar pencapaian prestasi atlet. Panitia dan pengurus daerah dapat belajar mengenai manajemen event, pelayanan kontingen, serta bagaimana menjamu peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

“Event ini bukan hanya untuk menunjukkan prestasi, tetapi juga kesempatan bagi SDM Lampung untuk belajar bagaimana melaksanakan event dan menjamu teman-teman dari luar Provinsi Lampung,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sportivitas dan fair play selama pertandingan. Menurutnya, kompetisi harus tetap menjadi sarana membangun persaudaraan antaratlet dan antar daerah.

“Sportivitas dan fair play tetap harus dijunjung dalam pertandingan. Ini bukan sekadar mempertemukan teman-teman, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi,” kata Ida Bagus.

Dalam kejuaraan tersebut, sejumlah wasit dan perangkat pertandingan berlisensi juga dilibatkan. Keberadaan perangkat pertandingan dari Lampung sekaligus menjadi bagian dari persiapan menuju agenda olahraga nasional berikutnya, termasuk babak kualifikasi PON.

Ida Bagus mengatakan komunikasi antara Pengda Hapkido Lampung dengan Pengurus Pusat Hapkido Indonesia selama ini terus dijaga. Lampung juga disebut aktif mengikuti berbagai kegiatan nasional, termasuk pendidikan dan pelatihan bagi perangkat pertandingan.

“Komunikasi terus kita jaga sebaik mungkin agar terbangun harmoni antara Pengda dengan Pengurus Besar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Hapkido Indonesia (PPHI), GBPH H. Prabukusumo, menjelaskan bahwa penunjukan daerah sebagai tuan rumah kejurnas dilakukan melalui sejumlah pertimbangan.

Menurutnya, pengurus pusat tidak hanya mempertimbangkan jumlah peserta atau aspek kuantitas, tetapi juga melihat kualitas kepengurusan, kesiapan tempat, serta berbagai aspek pendukung lainnya.

“Paling banyak, paling bagus. Kemudian dari pengurusnya juga bagus. Semua kita nilai, tempatnya juga kita survei. Semua harus oke baru kita pilih,” kata Prabukusumo.

Ia mengatakan pengajuan sebagai tuan rumah dilakukan sejak tahun sebelumnya sehingga pengurus pusat memiliki waktu untuk melakukan penilaian dan menentukan daerah yang dinilai memenuhi persyaratan penyelenggaraan.

Dalam kesempatan tersebut, Prabukusumo juga mengingatkan para atlet agar tidak berhenti berlatih setelah mengikuti pertandingan. Menurutnya, peningkatan prestasi membutuhkan latihan yang berkelanjutan dan disiplin.

“Jangan setelah bertanding kemudian dua minggu selesai. Hari berikutnya harus latihan, mau latihan fisik atau latihan teknik,” ujarnya.

Ia menegaskan, prestasi di tingkat nasional maupun internasional tidak dapat diraih tanpa latihan keras dan pembinaan yang konsisten. Karena itu, PPHI terus mendorong pembinaan atlet di berbagai daerah agar mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Prabukusumo juga memaparkan perkembangan Hapkido di Indonesia yang dalam lebih dari satu dekade telah berkembang ke berbagai provinsi. Dari awalnya hanya belasan provinsi, organisasi Hapkido Indonesia kini telah berkembang hingga sekitar 31 provinsi.

Perkembangan tersebut, menurut dia, tidak terlepas dari pola pembinaan dan pengembangan organisasi yang dilakukan sejak awal. Salah satunya melalui pelatihan calon pelatih di Yogyakarta, yang kemudian kembali ke daerah masing-masing untuk membuka dan mengembangkan cabang Hapkido.

“Setelah pulang, tanggung jawabnya harus langsung buka, walaupun awalnya hanya tujuh sampai sembilan orang,” katanya.

Dengan jumlah peserta mencapai 600 atlet, Kejurnas IX Senior-Junior dan Kejurnas Terbuka III Cadet Junior Hapkido di Bandar Lampung diharapkan tidak hanya menghasilkan persaingan prestasi di arena pertandingan, tetapi juga memperkuat jaringan pembinaan Hapkido antardaerah.

Kejuaraan tersebut diikuti kontingen dari Lampung, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Bali, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Papua Barat Daya, Sulawesi Utara, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Sumatera Utara.

Sementara peserta dari kabupaten/kota antara lain berasal dari Lampung Tengah, Lampung Barat, Pesisir Barat, Bandar Lampung, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Cilegon, Klaten, Semarang, Jakarta Utara, Bekasi, Bengkayang, Bandung Barat, Cirebon, Balikpapan, Sleman, dan Yogyakarta.

Related posts